• Saat ini, motor listrik murah semakin menjadi primadona di Indonesia. Selain ramah lingkungan, harganya yang terjangkau dan biaya operasional rendah membuatnya cocok untuk kalian yang ingin beralih ke kendaraan hemat energi.

    Saya sudah mencoba beberapa model, disini saya akan kasih saran 5 motor listrik murah yang paling rekomended. Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

    1. Uwinfly T5

    Uwinfly T5 mencuri perhatian dengan desain retro mirip Vespa yang stylish. Dilengkapi lampu LED terang dan bodi aerodinamis, motor ini cocok untuk kalian yang ingin tampil kekinian.

    Dari segi performa, T5 menggunakan baterai 72V 20Ah yang mampu menempuh 60-70 km dalam sekali isi daya, dengan kecepatan maksimal 66 km/jam.

    Kelebihan:

    • Fitur reverse gear untuk memudahkan manuver mundur.
    • Bagasi luas di bawah jok dan port USB untuk mengisi daya gadget.
    • Pengereman cakram depan-belakang dan ban tubeless yang minim risiko selip.

    Kekurangan:

    • Suspensi depan terasa keras, terutama di jalan bergelombang.
    • Harga bervariasi antara Rp 13,5 juta–Rp 20 juta, tergantung spesifikasi.

    2. Uwinfly T3

    Jika budget kalian terbatas, Uwinfly T3 bisa jadi alternatif. Dengan desain mirip Vespa klasik, motor ini dibanderol mulai Rp 10 juta. Spesifikasinya tak kalah tangguh: baterai 60V 20Ah dan motor 800W yang mampu melaju hingga 60 km/jam.

    Kelebihan:

    • Jarak tempuh 50-70 km per charge, cocok untuk perjalanan harian.
    • Bodi ringan dan ergonomis, mudah dikendarai di jalanan padat.

    Kekurangan:

    • Akselerasi kurang responsif dibanding T5.
    • Fitur minim, hanya lampu LED dan bagasi standar.

    3. Volta 401

    Volta 401 menawarkan kombinasi performa dan teknologi. Dengan harga sekitar Rp 16,95 juta (tanpa subsidi), motor ini dilengkapi fitur remote alarm, LCD display, dan sistem anti-pencurian.

    Ditenagai motor listrik 1.500 watt, motor ini mampu mencapai kecepatan maksimal 60 km/jam. Baterai lithium-ion 64V 21Ah memberikan jarak tempuh hingga 60 km per pengisian, dengan opsi menambahkan baterai kedua untuk meningkatkan jarak tempuh.

    Kelebihan:

    • Desain futuristik dengan pengereman cakram.
    • Cocok untuk pengguna yang mengutamakan keamanan dan teknologi.

    Kekurangan:

    • Harga relatif lebih tinggi dibanding Uwinfly T3 dan T5.

    4. Rakata S9

    Motor listrik ini dibekali motor penggerak 800W yang mampu mencapai kecepatan maksimal 50 km/jam serta memiliki kemampuan menanjak hingga kemiringan 30°.

    Ditenagai baterai Sealed Lead Acid (SLA) atau baterai gel dengan kapasitas 60V 20Ah, Rakata S9 mampu menempuh jarak maksimal hingga 60 km dalam sekali isi daya.

    Untuk menunjang keselamatan, Rakata S9 mengusung rem cakram di bagian depan dan belakang serta ban 10 inci yang memberikan cengkeraman optimal.

    Sistem suspensinya terdiri dari peredam kejut teleskopik di bagian depan dan suspensi ganda di bagian belakang, ditambah jok berbahan busa yang sangat nyaman.

    Kelebihan:

    • Performa motor 800W dengan kecepatan maksimal 50 km/jam dan kemampuan menanjak 30°.
    • Jarak tempuh hingga 60 km dengan baterai 60V 20Ah.
    • Desain modern dengan lampu LED dan speedometer digital yang jelas.
    • Sistem pengereman cakram dan suspensi ganda mendukung kenyamanan serta keamanan berkendara.

    Kekurangan:

    • Harga resmi mencapai Rp 17 jutaan, naik dari harga awal Rp 15 jutaan.

    5. OFERO Sepeda Listrik Starrer Max

    Dibekali motor penggerak 600W, sepeda ini mampu mencapai kecepatan maksimal 43 km/jam dengan daya tempuh hingga 80 km per pengisian penuh. Baterainya menggunakan tipe SLA 48V 20Ah, yang butuh waktu sekitar 6-8 jam untuk pengisian daya.

    Daya angkutnya pun luar biasa, mencapai 180 kg, cocok buat kamu yang sering membawa barang tambahan. Sepeda listrik ini dibanderol dengan harga sekitar Rp 7,2 juta, cukup murah untuk spesifikasi yang ditawarkan.

    Kelebihan:

    • Kecepatan maksimal 43 km/jam dengan jarak tempuh 80 km.
    • Desain ramping dan elegan, cocok untuk suasana urban.
    • Fitur water resistance bikin aman saat berkendara di cuaca tak menentu.
    • Harga terjangkau di kelasnya.

    Kekurangan:

    • Pengisian daya cukup lama (6-8 jam).
    • Motor penggerak hanya 600W, kurang bertenaga dibanding model lain.

    Baca Juga: 5 Rekomendasi Motor Listrik yang Bagus Buat Jarak Jauh

    FAQ

    1. Apa itu motor listrik dan apa keuntungannya?

    Motor listrik menggunakan tenaga baterai sebagai sumber penggerak sehingga tidak menghasilkan emisi langsung. Keuntungannya antara lain ramah lingkungan, biaya operasional yang lebih rendah, dan perawatan yang relatif mudah karena memiliki lebih sedikit komponen mekanis dibandingkan motor konvensional.

    2. Apakah motor listrik murah ini cocok untuk penggunaan harian?

    Ya, kelima motor listrik yang direkomendasikan—Uwinfly T5, Uwinfly T3, Volta 401, Rakata S9, dan OFERO Sepeda Listrik Starrer Max—dirancang untuk memenuhi kebutuhan aktivitas harian dengan jarak tempuh yang cukup dan fitur yang mendukung kenyamanan berkendara di perkotaan.

    3. Bagaimana perbedaan utama antara model-model motor listrik tersebut?

    • Uwinfly T5: Menawarkan desain retro ala Vespa, kecepatan maksimal 66 km/jam, serta fitur-fitur tambahan seperti reverse gear dan port USB.
    • Uwinfly T3: Alternatif dengan harga lebih terjangkau, desain klasik, dan kecepatan maksimal 60 km/jam, cocok untuk penggunaan harian dengan budget terbatas.
    • Volta 401: Mengedepankan teknologi dengan fitur remote alarm, LCD display, dan sistem anti-pencurian.
    • Rakata S9: Dilengkapi motor 800W dengan kemampuan menanjak hingga 30°, suspensi ganda, dan fitur keselamatan lengkap seperti rem cakram di depan dan belakang.
    • OFERO Sepeda Listrik Starrer Max: Cocok bagi yang membutuhkan daya angkut tinggi (hingga 180 kg) dengan jarak tempuh mencapai 80 km, meskipun waktu pengisian baterai relatif lama.

    4. Bagaimana cara pengisian daya baterai motor listrik?

    Setiap motor memiliki waktu pengisian yang bervariasi. Misalnya, OFERO membutuhkan sekitar 6-8 jam untuk pengisian penuh. Penting untuk selalu menggunakan charger resmi dan mengikuti petunjuk dari pabrikan agar umur baterai dapat dipertahankan dengan baik.

    5. Apakah motor listrik memerlukan perawatan khusus?

    Secara umum, motor listrik lebih mudah dirawat dibandingkan motor berbahan bakar fosil karena tidak perlu perawatan rutin seperti ganti oli.

    Namun, perhatikan kondisi baterai, sistem pengereman, dan komponen elektronik agar motor tetap dalam kondisi optimal. Pemeriksaan berkala sesuai anjuran pabrikan juga sangat disarankan.

    6. Bagaimana jika saya berkendara di jalan yang tidak rata atau bergelombang?

    Setiap model memiliki karakteristik suspensi yang berbeda. Misalnya, Uwinfly T5 memiliki suspensi depan yang cenderung keras di jalan bergelombang. Sebelum membeli, pastikan untuk mempertimbangkan kondisi jalan yang sering kamu lalui serta mencoba test ride jika memungkinkan.

    Kesimpulan

    Nah, itu dia lima motor listrik murah yang layak jadi pertimbangan. Sesuaikan aja pilihan kalian dengan kebutuhan dan budget. Jangan lupa cek ulasan lengkap di platform terpercaya sebelum membeli!

  • Kamera pocket sering jadi pilihan utama buat orang yang ingin mengabadikan momen tanpa repot membawa peralatan fotografi berat. Ukurannya yang kecil dan fitur simpelnya bikin kamera ini cocok untuk dokumentasi wisata, kumpul keluarga, atau street photography.

    Tapi dengan banyaknya pilihan di pasaran, gimana sih cara memilih kamera pocket yang tepat buat kebutuhan? Nah buat kamu yang masih pemula, nih simak 5 tips dari saya di bawah ini agar tidak salah dalam memilih kamera pocket.

    Kelebihan & Kekurangan Kamera Pocket

    Sebelum masuk ke tips, kenali dulu plus-minus kamera pocket biar kamu nggak kecewa belakangan.

    Kelebihan:

    • Portabel: Muat di kantong, jadi bisa dibawa ke mana saja.
    • User-friendly: Tombol sedikit, cocok buat pemula.
    • Konektivitas modern: Banyak yang sudah support WiFi/Bluetooth untuk transfer file cepat.
    • Multifungsi: Beberapa model bisa rekam video berkualitas.

    Kekurangan:

    • Lensa tetap: Nggak bisa ganti lensa seperti kamera mirrorless/DSLR.
    • Sensor kecil: Hasil foto kurang maksimal di kondisi cahaya minim atau objek bergerak cepat.
    • Baterai boros: Kapasitas kecil, jadi perlu cadangan.

    Tips Memilih Kamera Pocket yang Pas untuk Kebutuhanmu

    1. Utamakan Sensor 1 Inci untuk Hasil Foto Lebih Tajam

    Sensor adalah “mata” kamera. Semakin besar sensornya, semakin banyak cahaya yang masuk, dan hasil fotomu pun lebih detail—terutama di malam hari atau indoor.

    Kamera pocket umumnya punya sensor antara 1/5 inci hingga 1 inci. Dari segi harga, sensor 1 inci memang lebih mahal, tapi kualitasnya setara dengan kamera high-end.

    Contohnya, Sony RX100 series atau Canon PowerShot G7 X. Kalau budget terbatas, sensor 1/2.3 inci masih oke untuk foto casual, tapi hindari yang di bawah ukuran itu.

    Tambahan Fitur Penting:

    • Viewfinder elektronik: Membantu framing foto di bawah terik matahari atau gelap.
    • Weather resistance: Kamera tahan debu dan air, cocok buat traveling ekstrem.

    Tips dari saya: Kalau kamu sering motret di outdoor, prioritaskan weather resistance. Sensor besar + fitur ini bakal jadi kombinasi sempurna!

    2. Pilih Lensa Zoom Kalau Suka Rekam Video

    Buat kamu yang hobi vlogging atau rekam video, kamera pocket dengan lensa zoom wajib dipertimbangkan. Lensa ini memungkinkan kamu memperbesar objek tanpa mengurangi kualitas—berbeda dengan digital zoom yang bikin gambar pecah.

    Pastikan kamera punya optical zoom (bukan digital zoom). Contohnya, Panasonic Lumia ZS80 yang punya optical zoom 30x. Tapi, hati-hati! Lensa zoom lebih rentan rusak. Simpan kamera di pouch khusus dan hindari benturan.

    Catatan penting:

    • Lensa zoom biasanya bikin bodi kamera lebih tebal. Pastikan ukurannya masih nyaman di kantong.
    • Cek fitur stabilisasi gambar (image stabilization) biar video nggak goyang.

    3. Untuk Pemula, Mulai dari Kamera Harga Terjangkau

    Kalau baru pertama kali pakai kamera pocket, jangan langsung tergiur spesifikasi high-end. Kamera mahal biasanya punya banyak fitur kompleks yang justru membingungkan.

    Contoh rekomendasi:

    • SBOX S8: Harganya ramah kantong, desain simpel, dan punya mode otomatis yang mudah dioperasikan.
    • Bcare Mirrorless Digital Camera: Meski disebut “mirrorless”, ukurannya tetap compact dan cocok buat pemula.

    Kedua kamera ini minim tombol, jadi kamu bisa fokus belajar teknik dasar dulu. Setelah mahir, baru upgrade ke model yang lebih canggih.

    4. Cek Konektivitas dan Baterai

    Fitur WiFi atau Bluetooth sangat berguna buat transfer foto ke HP tanpa kabel. Beberapa kamera bahkan bisa dikontrol via smartphone—berguna buat selfie grup atau angle kreatif.

    Soal baterai, pastikan kapasitasnya minimal 800 mAh. Bawa power bank atau baterai cadangan kalau kamu sering traveling seharian. Beberapa kamera pocket sudah support USB charging, jadi bisa diisi ulang pakai power bank.

    5. Jangan Lupa Cek Fitur Tambahan

    • Touchscreen: Memudahkan pengaturan fokus dan menu.
    • Mode Manual: Buat kamu yang ingin belajar eksposur segitiga (ISO, aperture, shutter speed).
    • 4K Video: Kalau ingin rekam video ultra-HD.

    Kalau kamu masih bingung memilih, saya sudah pernah membahas 5 Rekomendasi Kamera Pocket Terbaik 2025 di artikel sebelumnya. Di sana, ada detail harga, keunggulan, dan perbandingan fitur tiap kamera.

    FAQ

    1. Apa bedanya kamera pocket dengan smartphone?

    Kamera pocket punya sensor dan lensa lebih baik, terutama di kondisi low-light. Meski HP sudah canggih, kamera pocket tetap unggul di zoom optik dan kontrol manual.

    2. Apakah kamera pocket bisa dipakai live streaming?

    Bisa, asal kamera support output HDMI atau USB webcam. Beberapa model seperti Canon PowerShot G7 X Mark III sudah punya fitur live streaming langsung ke YouTube.

    3. Berapa budget minimal untuk beli kamera pocket bagus?

    Mulai dari Rp 1,5 jutaan. Tapi, kalau ingin sensor 1 inci, siapkan budget Rp 6-10 jutaan.

    4. Bagaimana cara merawat lensa kamera pocket?

    • Selalu tutup lensa saat tidak dipakai.
    • Bersihkan debu dengan kuas halus atau lens pen.
    • Jangan sentuh lensa langsung dengan jari.

    5. Apakah kamera pocket cocok untuk fotografi olahraga?

    Kurang cocok. Autofocus-nya lambat dan sensor kecil sulit tangkap objek bergerak cepat. Lebih baik pakai kamera DSLR/mirrorless dengan lensa tele.

    Kesimpulan

    Memilih kamera pocket nggak sekadar cari yang termurah atau terkecil. Pertimbangkan sensor, kebutuhan video, dan kemudahan penggunaan.

    Jangan ragu investasi di kamera dengan sensor besar kalau kamu serius ingin hasil foto maksimal. Tapi kalau masih pemula, mulailah dari model basic dulu sambil belajar teknik dasar.

    Yang paling penting, sesuaikan aja dengan budget dan gaya fotografi kamu.

  • Motor second sering jadi pilihan bagi orang yang pengen punya motor harga murah. Apalagi dengan budget 10 jutaan, kalian bisa mendapatkan varian matic atau sport yang masih berkualitas dan layak pakai.

    Saya sudah menjelajahi pasar motor bekas beberapa waktu lalu, dan disini saya akan membagikan 8 rekomendasi motor second di kisaran Rp 10 jutaan yang cocok untuk harian. Yuk simak daftarnya berikut ini.

    1. New Honda BeAT 2019

    New Honda BeAT 2019 adalah pilihan ideal untuk kebutuhan harian di perkotaan. Dengan mesin 110 cc yang dilengkapi teknologi eSP dan PGM-FI, motor ini terkenal irit bahan bakar, mencapai 60 km/liter.

    Fitur Idling Stop System (ISS) semakin menambah efisiensi, meski suspensi belakangnya kurang nyaman di jalan bergelombang. Untuk harga Rp 10,6 juta, BeAT 2019 layak dipertimbangkan karena usia motor yang masih muda dan performa yang responsif.

    • Tahun: 2019
    • Harga: Rp 10,6 juta
    • Kapasitas Mesin: 110 cc
    • Tipe Mesin: eSP, PGM-FI
    • Fitur Unggulan: Desain modern, konsumsi BBM irit (60 km/liter), sistem pengapian digital.
    • Kelebihan: Mesin responsif, bodi ringan, dan teknologi _Idling Stop System_ (ISS) untuk efisiensi bahan bakar.
    • Kekurangan: Suspensi belakang kurang nyaman di jalan bergelombang.

    2. Yamaha Mio Z 125 (2018)

    Yamaha Mio Z 125 (2018) menawarkan tenaga ekstra berkat mesin 125 cc-nya yang cocok untuk kalian yang sering melintasi jalan macet. Lampu LED dan kapasitas tangki 4,2 liter menjadi nilai plus, meski desainnya terkesan ketinggalan zaman dibanding seri Mio terbaru.

    Dengan harga Rp 10 juta, motor ini masih kompetitif untuk harian, terutama jika kalian mengutamakan performa ketimbang tampilan.

    • Tahun: 2018
    • Harga: Rp 10 juta
    • Kapasitas Mesin: 125 cc
    • Tipe Mesin: SOHC, berpendingin udara
    • Fitur Unggulan: Lampu LED, kapasitas tangki 4,2 liter.
    • Kelebihan: Performa mesin bertenaga, cocok untuk jalanan ramai.
    • Kekurangan: Desain kurang futuristik dibanding Mio generasi terbaru.

    3. Honda Vario 125 (2015)

    Rekomendasi motor bekas 10 jutaan - Honda Vario 125 (2015)

    Honda Vario 125 (2015) tetap jadi primadona di kelasnya berkat akselerasi yang halus dan desain sporty. Sistem pengereman CBS membuatnya aman untuk pemula, meski sparepart-nya sedikit lebih mahal dibanding kompetitor.

    • Tahun: 2015
    • Harga: Rp 10,2 juta
    • Kapasitas Mesin: 125 cc
    • Tipe Mesin: eSP, PGM-FI
    • Fitur Unggulan: Sistem pengereman CBS, desain sporty.
    • Kelebihan: Akselerasi halus dan kapasitas bagasi luas.
    • Kekurangan: Harga sparepart relatif mahal.

    Baca Juga: 5 Rekomendasi Oli Motor Matic Terbaik di 2025, Jangan Salah Pilih!

    4. Jupiter MX King 150 (2016)

    Jupiter MX King 150 (2016) cocok untuk kalian yang ingin merasakan sensasi motor sport tanpa mengeluarkan budget besar. Mesin 150 cc-nya sanggup diajak touring, meski boros BBM. Suspensi upside-down dan desain agresifnya masih terlihat gagah, meski usia motor sudah 7 tahun.

    • Tahun: 2016
    • Harga: Rp 10,3 juta
    • Kapasitas Mesin: 150 cc
    • Tipe Mesin: 4-tak, berpendingin udara
    • Fitur Unggulan: Suspensi upside-down, desain agresif.
    • Kelebihan: Performa sangar untuk harian atau touring ringan.
    • Kekurangan: Konsumsi BBM boros (35-40 km/liter).

    5. Honda Vario 150 (2017)

    Honda Vario 150 (2017) adalah jawaban untuk kalian yang butuh tenaga ekstra. Mesin 150 cc-nya sanggup membawa muatan berat atau menanjak dengan lancar. Lampu LED dan desain modern tetap membuatnya menarik, meski biaya servisnya lebih tinggi.

    • Tahun: 2017
    • Harga: Rp 10 juta
    • Kapasitas Mesin: 150 cc
    • Tipe Mesin: eSP+, PGM-FI
    • Fitur Unggulan: Mesin bertenaga, lampu LED.
    • Kelebihan: Cocok untuk jalanan menanjak atau muatan berat.
    • Kekurangan: Harga servis lebih tinggi dibanding Vario 125.

    6. Yamaha X-Ride 125 (2017)

    Yamaha X-Ride 125 (2017) adalah pilihan anti-mainstream dengan desain off-road yang unik. Ground clearance tinggi cocok untuk jalan berlubang, meski stangnya terasa berat untuk pengendara perempuan. Harga Rp 9 juta termasuk murah untuk motor berusia 6 tahun, terutama jika kalian ingin tampil beda.

    • Tahun: 2017
    • Harga: Rp 9 juta
    • Kapasitas Mesin: 125 cc
    • Tipe Mesin: 4-tak, berpendingin udara
    • Fitur Unggulan: Desain off-road, ban tubeless.
    • Kelebihan: Ground clearance tinggi untuk jalan berlubang.
    • Kekurangan: Stang berat untuk pengendara perempuan.

    7. Suzuki Hayate 110 (2011)

    Suzuki Hayate 110 (2011) adalah motor matic sederhana dengan harga termurah dalam daftar ini. Mesin 110 cc-nya irit BBM dan bodinya ringan, cocok untuk jarak dekat.

    Sayangnya pas saya tanya-tanya, ternyata sulit menemukan sparepart nya di bengkel biasa. Jika kalian sabar mencari sparepart online, motor ini layak dibeli dengan harga Rp 8 jutaan.

    • Tahun: 2011
    • Harga: Rp 8 juta
    • Kapasitas Mesin: 110 cc
    • Tipe Mesin: 4-tak
    • Fitur Unggulan: Bodi ringan, harga murah.
    • Kelebihan: Biaya perawatan rendah.
    • Kekurangan: Suku cadang sulit dicari di bengkel umum.

    8. Honda Supra X 125 FI (2019)

    Honda Supra X 125 FI (2019) membuktikan bahwa motor bebek masih relevan di era modern. Dengan teknologi injeksi, konsumsi BBM-nya bisa mencapai 55 km/liter. Desainnya memang terkesan jadul, tapi usia motor yang masih muda (2019) dan harga Rp 10,5 juta membuatnya layak dipertimbangkan.

    • Tahun: 2019
    • Harga: Rp 10,5 juta
    • Kapasitas Mesin: 125 cc
    • Tipe Mesin: PGM-FI
    • Fitur Unggulan: Bebek dengan teknologi injeksi.
    • Kelebihan: Irit BBM (55 km/liter), usia motor masih muda.
    • Kekurangan: Desain klasik kurang menarik.

    Baca Juga: 5 Rekomendasi Motor Listrik yang Bagus Buat Jarak Jauh

    FAQ

    1. Apa yang harus diperhatikan saat beli motor second 10 jutaan?

    Cek kondisi mesin, kilometer odometer, dokumen lengkap (BPKB, STNK), dan riwayat servis.

    2. Apakah motor tahun di atas 2010 masih layak pakai?

    Tergantung perawatan pemilik sebelumnya. Motor 2010-an masih layak jika tidak sering dipaksa atau kecelakaan.

    3. Mana yang lebih baik: motor matic atau bebek di harga 10 juta?

    Matic lebih praktis untuk perkotaan, sedangkan bebek biasanya lebih irit dan tahan banting.

    4. Bagaimana cara negosiasi harga motor bekas?

    Bandingkan harga pasaran, lalu tawar 10-15% dari harga yang dipasang, asal sesuai kondisi unit.

    5. Apa risiko beli motor bekas merek “anti-mainstream”?

    Suku cadang langka dan nilai jual kembali rendah.

    Dari 8 rekomendasi di atas, pilihlah motor bekas 10 jutaan sesuai kebutuhan dan riset kondisi mesin secara mendalam. Jangan lupa cek sejarah servis dan ajak mekanik tepercaya saat melihat unit!

  • Hollyland Lark M2 akhir-akhir ini jadi primadona banyak kreator konten. Wireless microphone terbaru dari Hollyland ini menggabungkan desain stylish, bobot super ringan, dan performa audio yang mumpuni untuk para pembuat konten seperti saya, para filmmaker, vlogger, dan podcaster.

    Di tengah maraknya rekomendasi produk mic nirkabel, Lark M2 berdiri dengan keunikan desainnya yang bulat dan kecil, berbeda dari produk sejenis yang cenderung berbentuk kotak atau persegi panjang.

    Dalam artikel ini, saya akan bongkar secara mendalam segala hal tentang Hollyland Lark M2, mulai dari desain, fitur unggulan, hingga pengalaman pribadi saya menggunakan produk ini.

    Desain dan Build Quality

    Salah satu hal pertama yang menarik perhatian saya ketika mencoba Hollyland Lark M2 adalah desainnya yang sangat compact dan minimalis. Dengan bentuk TX (transmitter) yang bulat dan ringan seberat 9 gram, mic ini sangat cocok untuk kamu yang mengutamakan kepraktisan dan kenyamanan saat merekam.

    Meski tampilannya kecil, Lark M2 menawarkan build quality yang solid dan terkesan premium dengan material komposit yang tahan banting.

    Desain ini membuat mic tidak hanya praktis digunakan, tetapi juga tidak terlalu mencolok saat dipasang di baju, sehingga cocok bagi kalian yang ingin tampil natural tanpa adanya branding yang berlebihan.

    Selain itu, sistem ini hadir dengan beberapa varian, yaitu versi kamera, mobile (dengan konektor Lightning atau USB-C), dan combo yang menyertakan ketiganya.

    Hal ini membuat Lark M2 menjadi sangat versatile, karena bisa dipakai dengan berbagai perangkat seperti kamera DSLR, mirrorless, ataupun smartphone.

    Meskipun tidak mengusung konstruksi all-metal seperti produk-produk high-end, kualitas material yang digunakan sudah cukup memenuhi kebutuhan para content creator yang sering berpindah-pindah lokasi syuting.

    Fitur Unggulan dan Teknologi

    Hollyland Lark M2 dilengkapi dengan berbagai fitur unggulan yang tidak hanya meningkatkan kualitas audio, tetapi juga memudahkan penggunaan. Salah satu fitur yang sangat saya hargai adalah teknologi Environmental Noise Cancelling (ENC).

    Teknologi ini bekerja untuk meminimalkan noise lingkungan sehingga rekaman audio tetap jernih meski di lokasi yang bising. Kamu bisa mengatur tingkat kekuatan ENC sesuai dengan kebutuhan, membuat produk ini semakin fleksibel dalam berbagai kondisi.

    Tak hanya itu, sistem ini menggunakan teknologi Adaptive Frequency Hopping (AFH) 2,4 GHz yang memastikan koneksi yang stabil dan bebas dari gangguan.

    Meski bekerja di frekuensi 2.4GHz yang rentan terhadap interferensi, penggunaan AFH mampu menjaga kualitas sinyal dan memastikan jarak transmisi mencapai 300 meter secara line-of-sight (LOS).

    Fitur-fitur tambahan seperti pengaturan mode Mono dan Stereo, knob kontrol untuk menyesuaikan volume pada receiver (RX), dan kemampuan menghubungkan receiver langsung ke komputer melalui fungsi UAC, semakin menambah nilai plus Lark M2.

    Performa Audio Gak Mengecewakan!

    Dalam hal performa audio, Hollyland Lark M2 memberikan kualitas Hi-Fi dengan format 48 kHz/24 Bit, yang menghasilkan suara jernih dan detail. Saya mengujinya dalam berbagai kondisi, mulai dari syuting di dalam ruangan hingga perekaman di lingkungan outdoor yang cukup bising.

    Hasilnya, mic ini mampu menangkap suara dengan baik dan menghasilkan rekaman yang tajam tanpa banyak gangguan noise. Meski tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan rekaman on-board, kualitas suara yang dihasilkan sudah cukup memuaskan untuk kebutuhan pembuatan konten harian.

    Selain kualitas suara, daya tahan baterai juga menjadi salah satu kelebihan Lark M2. Transmitter dapat bertahan hingga 10 jam pemakaian, sementara receiver versi kamera mencapai 9 jam.

    Ditambah lagi, produk ini hadir dengan charger case yang bisa ngecas baterai selama 2 jam dan memberikan cadangan baterai untuk memastikan kamu tidak kehabisan baterai di tengah syuting. Hal ini sangat menguntungkan bagi kamu yang sering melakukan perekaman dalam jangka waktu lama.

    Kelebihan dan Kekurangan

    Setiap produk tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, dan Hollyland Lark M2 tidak terkecuali. Berikut ini adalah beberapa poin yang bisa kamu pertimbangkan:

    Kelebihan

    1. Desain Compact dan Stylish: Bentuk bulat yang unik dan ringan membuatnya sangat nyaman dipakai dalam waktu lama.

    2. Kualitas Audio Hi-Fi: Rekaman dengan 48 kHz/24 Bit menghasilkan suara yang jernih dan detail.

    3. Teknologi ENC: Fitur noise cancelling yang dapat diatur sesuai kebutuhan sangat membantu di lingkungan bising.

    4. Multiple Connectivity Options: Tersedia dalam versi kamera, mobile, dan combo, sehingga fleksibel untuk berbagai perangkat.

    5. Daya Tahan Baterai yang Mumpuni: Pemakaian hingga 10 jam dan didukung dengan casing pengisi daya yang praktis.

    Kekurangan

    1. Tidak Ada Fitur On-Board Recording: Kelemahan yang mungkin mengurangi kepercayaan bagi para podcaster atau mereka yang memerlukan backup langsung.

    2. Tidak Bisa Menghubungkan Mic Lavalier Eksternal: Meski built-in mic sudah bagus, tidak adanya input untuk mic tambahan membatasi fleksibilitas.

    3. Keterbatasan Jangkauan di Kondisi Non-LOS: Walaupun klaim jarak transmisi mencapai 300 meter, performa sebenarnya bisa bervariasi tergantung kondisi lingkungan.

    Baca Juga: Review Saramonic SR-XM1 – Mini Mic Serbaguna Buat Kreator Konten

    Kesan Saya

    Sebagai seorang content creator, saya selalu mencari peralatan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga mudah digunakan dan tidak mengganggu penampilan. Dalam penggunaan saya selama beberapa bulan terakhir, Hollyland Lark M2 telah terbukti menjadi alat yang sangat handal.

    Saya menggunakan mic ini setiap kali melakukan syuting, mulai dari video vlog harian, wawancara, hingga podcast. Desainnya yang kecil dan tidak mencolok memberikan nilai tambah tersendiri, karena kamu tidak perlu khawatir akan terlihat terlalu mencolok dengan perangkat yang terlalu besar dan penuh branding.

    Saya juga sangat mengapresiasi adanya opsi untuk menggunakan mic ini dengan smartphone melalui koneksi Lightning atau USB-C, sehingga memungkinkan perekaman di mana saja dan kapan saja.

    Meskipun ada kekurangan seperti tidak adanya fitur rekaman on-board dan input untuk lavalier eksternal, secara keseluruhan, kelebihan yang ditawarkan jauh lebih dominan.

    Harga yang ditawarkan juga sangat bersaing, terutama jika dibandingkan dengan produk lain seperti Rode Wireless Go atau DJI Mic yang harganya lebih mahal.

    Bagi kalian yang sedang mencari referensi lain mengenai mic clip-on wireless, saya telah menulis artikel lengkap tentang Rekomendasi Mic Clip-On Wireless yang bisa kamu baca untuk mendapatkan perbandingan mendalam dan opsi lainnya.

    Artikel tersebut membantu kamu dalam memilih mic clip-on yang tepat sesuai kebutuhan pembuatan konten kamu, baik dari segi harga, kualitas, maupun fitur yang ditawarkan.

    FAQ

    1. Apakah Hollyland Lark M2 cocok untuk pemula?

    Ya, saya rasa Hollyland Lark M2 sangat cocok untuk pemula yang ingin mencoba sistem wireless microphone. Dengan antarmuka yang mudah digunakan dan berbagai opsi konektivitas, kamu tidak akan kesulitan dalam pengoperasiannya.

    2. Bagaimana dengan kualitas audio dari Lark M2?

    Lark M2 menawarkan kualitas audio Hi-Fi dengan format 48 kHz/24 Bit. Saya pribadi merasa hasil rekamannya jernih dan mampu menangkap detail suara dengan baik, bahkan di lingkungan yang bising.

    3. Berapa lama daya tahan baterai dari mic ini?

    Transmitter pada Lark M2 dapat beroperasi hingga 10 jam, sedangkan receiver versi kamera bertahan sekitar 9 jam. Dilengkapi dengan casing pengisi daya, kamu bisa mengisi ulang baterai dengan cepat dan melanjutkan sesi syuting tanpa khawatir kehabisan daya.

    4. Apakah mic ini dapat digunakan dengan smartphone?

    Tentu saja. Lark M2 hadir dalam versi mobile dengan konektor Lightning dan USB-C, sehingga kamu bisa langsung menggunakannya dengan smartphone kamu untuk keperluan syuting atau live streaming.

    5. Adakah kelemahan dari Hollyland Lark M2?

    Beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan adalah tidak adanya fitur on-board recording dan tidak dapat menghubungkan mic lavalier eksternal. Namun, kelebihan seperti desain compact, kualitas audio, dan daya tahan baterai yang mumpuni tetap menjadikan produk ini pilihan yang menarik.

    6. Bagaimana cara mengatur noise cancelling pada Lark M2?

    Kamu dapat menyesuaikan tingkat kekuatan fitur Environmental Noise Cancelling (ENC) melalui aplikasi pendukung di versi mobile, sehingga mudah diatur sesuai dengan kondisi lingkungan rekaman.

    Kesimpulan

    Nah itu dia review saya mengenai microphone wireless Hollyland Lark M2.

    Meskipun ada beberapa kekurangan seperti tidak adanya fitur on-board recording dan input untuk mic eksternal, keunggulan desain yang compact dan performa baterai yang tahan lama menjadikan Lark M2 sebagai alat andalan dalam mendukung aktivitas kreatif kamu.

    Jika kamu tengah mempertimbangkan investasi dalam peralatan audio untuk meningkatkan kualitas konten, Hollyland Lark M2 layak untuk kamu coba.

    Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, produk ini tidak hanya mendukung aktivitas perekaman harian, tetapi juga memberikan fleksibilitas dalam berbagai kondisi pemakaian.

    Semoga review ini membantu kamu dalam menentukan pilihan yang tepat untuk kebutuhan pembuatan konten kamu.

  • Bagi kalian yang ingin menjelajah medan off-road tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam, mencari rekomendasi motor trail murah adalah langkah tepat.

    Trail menjadi salah satu segmen motor yang paling dinamis, menggabungkan performa dan ketahanan di medan ekstrem. Sayangnya, banyak yang mengira motor trail berkualitas harus mahal. Padahal, beberapa varian di bawah Rp 30 juta sudah bisa memberikan pengalaman berkualitas.

    Dengan banyaknya pilihan di pasaran, menentukan motor trail terbaik sesuai budget bisa bikin bingung. Kabar baiknya, disini saya sudah merangkum beberapa rekomendasi yang cocok untuk pemula hingga penggemar adventure dengan harga yang ramah buat dompet kalian.

    Simak rekomendasinya berikut ini.

    1. Viar Cross X 150

    Kalau kamu cari motor trail di bawah Rp 20 juta, Viar Cross X 150 layak masuk daftar incaran. Harganya Rp 19,7 juta (promo OTR Jakarta) ini jauh lebih hemat ketimbang rival sekelas, bahkan harga normalnya cuma beda tipis di Rp 20,2 juta. Untuk segmen motor trail garuk tanah, angka ini termasuk “sayang buat dilewatkan”.

    Mesin 149 cc SOHC-nya memang tak mengejar angka maksimal (10 Hp dan 9,8 Nm), tapi cukup buat pemula atau trail harian di medan berlumpur atau berbatu.

    Bobotnya cuma 104 kg, jadi lebih gesit dikendalikan saat manuver tajam. Saya suka suspensi depannya yang pakai upside down dan belakang monoshock unitrack — fitur yang jarang ada di motor seharga segini!

    Dimensinya standar trail (1.980 mm x 880 mm) dengan ground clearance lumayan buat hindari gesekan di jalur terjal. Tapi, jangan berharap performa ngebut kayak motor 250 cc ya. Cross X 150 lebih cocok buat kalian yang prioritas ke budget ketat, tapi tetap pengin motor siap “dihajar” di off-road.

    Perhatian: pastikan dulu ketersediaan suku cadang dan bengkel resmi Viar di daerahmu. Soal harga dan spesifikasi, motor ini mantap buat pemula yang mau belajar trail tanpa bikin kantong jebol!

    2. Viar Cross X 100 Mini Trail

    Masih dari Viar, kali ini kita bahas motor trail mini yang cocok buat kamu yang baru mulai jatuh cinta sama medan off-road: Viar Cross X 100 Mini Trail. Dengan harga mulai Rp 9,68 juta, motor ini bisa jadi pilihan entry-level tanpa bikin dompet jebol.

    Mesin 100 cc-nya berpendingin udara, meski tenaganya tak besar (5 kW dan 6,7 Nm), cukup buat belajar ngacir di jalur tanah atau bebatuan. Saya suka bobotnya yang super ringan—cuma 66,84 kg!—bikin manuver di trek sempit makin lincah.

    Suspensi depan upside down dan belakang monoshock bikin motor ini tetap stabil meski melewati kubangan atau tanjakan. Pengereman cakram depan-belakang juga jadi nilai plus buat keamanan, apalagi buat pemula yang masih perlu adaptasi.

    Fitur kerennya? Transmisi CVT otomatis! Gak perlu ribet ganti gigi—tinggal gas dan fokus ke medan aja.

    Desainnya sporty dengan stripping tajam yang kasih kesan “motor kecil tapi garang”. Tapi ingat, ini motor mini trail, jadi jangan harap bisa dipacu kencang kayak motor 150 cc ke atas.

    3. SM Sport GY 150 Aries

    Rekomendasi motor trail murah selanjutnya yaitu SM Sport GY 150 Aries dan menurut saya motor trail entry level ini punya potensi yang nggak boleh diremehkan.

    Dengan harga Rp 26,9 juta OTR Jabodetabek, motor ini dibekali mesin 149 cc 4-tak yang menghasilkan tenaga maksimal 11 Hp pada 8.000 rpm dan torsi 10 Nm di 7.500 rpm. Meskipun masih menggunakan karburator, performa mesin terasa responsif dan cocok buat kamu yang baru mulai eksplorasi dunia trail.

    Desainnya yang kompak dengan panjang 2.120 mm, lebar 850 mm, dan tinggi 1.180 mm membuat motor ini lincah di berbagai medan.

    Jok setinggi 850 mm dan ground clearance 250 mm juga jadi nilai plus buat kamu yang suka berkendara di jalur off-road. Ditambah kapasitas tangki 12 liter, motor ini siap menemani petualangan kamu tanpa khawatir kehabisan BBM.

    4. Gazgas Raptor 100

    Motor ini punya mesin 4-tak 100 cc dengan tenaga 7 hp dan torsi 7 Nm, jadi performanya lumayan untuk off-road ringan. Transmisi manual 4-percepatan juga bikin pengendalian jadi asik, apalagi motor ini beratnya cuma sekitar 70 kg, bikin manuver di medan sulit jadi lebih gampang.

    Desainnya juga nggak kalah keren, dilengkapi dengan suspensi depan tipe upside down yang responsif, serta rem cakram di kedua roda untuk pengereman maksimal.

    Ukuran ban depan 60/100-R14 dan ban belakang 80/100-R12 memberikan traksi yang pas di berbagai kondisi medan. Fitur standar seperti lampu depan, lampu belakang, lampu sein, dan spion bikin motor ini legal jalan raya tanpa ribet.

    Harga juga termasuk murah di kelasnya, yaitu sekitar Rp 14,5 jutaan saja.

    Baca Juga: 8 Rekomendasi Motor Second 10 Jutaan yg Masih Bagus di 2025

    5. Honda CRF150L

    Nah yang terakhir saya rekomendasikan Honda CRF150L, motor trail yang pas buat kamu yang ingin mencoba sensasi off-road dengan performa tangguh.

    Motor ini dibekali mesin 149 cc dengan teknologi injeksi yang menghasilkan tenaga maksimal 12,7 hp di 8.000 rpm dan torsi 12,43 Nm di 6.500 rpm. Transmisi manual 5-percepatan membuat perpindahan gigi jadi halus dan responsif, cocok untuk kamu yang seneng eksplorasi medan berat.

    Suspensi depan tipe upside down 37 mm dan suspensi belakang dengan Pro-Link Suspension System memberikan kenyamanan ekstra saat melibas jalan tak rata.

    Ditambah pelek depan 21 inci dan belakang 18 inci, traksi pun semakin mantap di setiap tikungan. Panel meter full digital juga membantu saya memantau informasi penting secara real-time.

    Dengan dimensi yang ideal dan ground clearance 285 mm, CRF150L siap menemani petualangan kamu. Bobotnya 122 kg memberikan kesan kokoh, dan harganya sekitar Rp 35.930.000 OTR Jakarta, saya rasa ini pilihan tepat buat kalian yang serius dengan dunia trail.

    FAQ

    1. Apakah motor trail di atas bisa digunakan di jalan raya?

    Sebagian besar motor trail dalam rekomendasi ini, seperti Honda CRF150L dan SM Sport GY 150 Aries, sudah dilengkapi lampu sein, spion, serta plat STNK yang memenuhi syarat jalan raya.

    Namun, pastikan untuk mengecek kelengkapan dokumen dan peraturan daerah setempat sebelum berkendara di aspal. Motor seperti Viar Cross X 100 Mini Trail dan Gazgas Raptor 100 juga bisa digunakan di jalan raya, tapi performanya lebih optimal di medan off-road.

    2. Mana motor trail yang paling cocok untuk pemula?

    • Viar Cross X 100 Mini Trail: Bobot ringan (66,84 kg) dan transmisi CVT otomatis membuatnya mudah dikendalikan.
    • Gazgas Raptor 100: Bobot 70 kg dan harga terjangkau cocok untuk latihan teknik dasar.
    • Viar Cross X 150: Suspensi responsif dan harga di bawah Rp 20 juta ideal untuk pemula yang ingin eksplorasi trail harian.

    3. Bagaimana ketersediaan suku cadangnya?

    Motor seperti Honda CRF150L memiliki jaringan resmi luas, sehingga suku cadang mudah ditemukan. Untuk merek seperti Viar atau Gazgas, pastikan ada bengkel resmi atau penjual parts di daerah Anda. Lakukan riset kecil sebelum membeli, terutama untuk model baru seperti SM Sport GY 150 Aries.

    4. Apa perbedaan motor trail mini dan regular?

    • Ukuran & Kapasitas Mesin: Trail mini (contoh: Viar Cross X 100) punya mesin 100-125 cc dan bobot di bawah 80 kg, sementara regular (seperti CRF150L) bermesin 150 cc dengan bobot 100-120 kg.
    • Medan: Trail mini cocok untuk latihan di jalur tanah ringan, sedangkan regular lebih tangguh di medan ekstrem seperti tanjakan curam atau bebatuan besar.

    5. Bisakah motor trail ini dimodifikasi?

    Bisa! Contoh modifikasi sederhana:

    • Viar Cross X 150: Tambahkan ban dengan pola lebih agresif untuk meningkatkan traksi.
    • Gazgas Raptor 100: Upgrade sistem knalpot untuk optimalkan performa mesin.
    • Honda CRF150L: Pasang crash guard untuk perlindungan ekstra saat off-road.

    Pastikan modifikasi tidak mengganggu fungsi utama dan tetap sesuai budget.

    6. Bagaimana perawatan harian motor trail?

    • Rutin bersihkan rantai dan suspensi setelah berkendara di medan berlumpur.
    • Ganti oli lebih sering (setiap 1.000-1.500 km) karena penggunaan di medan berat.
    • Periksa tekanan ban dan pastikan rem tidak aus, terutama untuk motor seperti SM Sport GY 150 Aries yang sering dipakai di medan berbatu.

    7. Apakah ada alternatif motor trail lain di kisaran harga serupa?

    Selain 5 rekomendasi di atas, Anda bisa pertimbangkan:

    • Wimoto Dirt Bike 125: Harga sekitar Rp 12 jutaan dengan mesin 125 cc.
    • United Motors MX150: Dibanderol Rp 22 juta, cocok untuk trail harian.

    Pastikan untuk membandingkan fitur, spesifikasi, dan ketersediaan layanan purnajual.

    8. Mengapa Viar direkomendasikan dua kali dalam list ini?

    Viar menawarkan harga kompetitif dengan fitur premium di kelasnya, seperti suspensi upside down dan monoshock yang jarang ditemukan di motor trail murah.

    Contohnya, Viar Cross X 150 memberi performa memadai di bawah Rp 20 juta, sementara Cross X 100 Mini Trail menjadi opsi termurah untuk pemula.

    9. Mana yang lebih irit BBM?

    • Viar Cross X 100 Mini Trail: Konsumsi BBM sekitar 40-45 km/liter berkat mesin 100 cc dan bobot ringan.
    • Gazgas Raptor 100: Irit di angka 35-40 km/liter.
    • Honda CRF150L: Meski mesinnya lebih besar, teknologi injeksi membuatnya tetap efisien (30-35 km/liter).

    Kesimpulan

    Dari 5 rekomendasi motor trail murah di atas, setiap model memiliki keunggulan sesuai kebutuhan. Jangan lupa, selain harga, perhatikan juga ketersediaan suku cadang dan layanan purnajual di daerah kalian.

    Semoga bermanfaat.

  • Jangan sampai kamu salah beli powerbank gara-gara nggak tahu cara memilih powerbank yang bagus dan tepat. Memilih powerbank yang tepat bukan sekadar mencari kapasitas terbesar atau merek paling mahal.

    Ada banyak faktor yang perlu kamu pertimbangkan agar produk tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan harianmu.

    Sebagai penulis yang sering bekerja on-the-go, saya paham betul pentingnya memilih powerbank yang ringkas, cepat, dan andal. Di artikel ini, saya akan membagikan panduan lengkap cara memilih powerbank berdasarkan kapasitas, fitur pengisian daya, dan rekomendasi merek terpercaya. Simak sampai akhir ya!

    1. Sesuaikan Kapasitas dengan Kebutuhan

    Kapasitas (mAh) adalah faktor pertama yang harus kamu perhatikan. Angka ini menentukan berapa kali powerbank bisa ngecas perangkatmu. Tapi jangan asal pilih kapasitas besar hanya karena ingin daya tahan lebih lama.

    Ingat: makin tinggi mAh, makin berat dan besar ukuran powerbank-nya.

    5.000–10.000 mAh: Ideal untuk dibawa sehari-hari.

    Jika kamu sering ke kampus, kantor, atau sekadar nongkrong di kafe, powerbank dengan kapasitas 5.000–10.000 mAh adalah pilihan terbaik.

    Bobotnya ringan (sekitar 200–300 gram) dan mudah masuk ke tas kecil. Sebagai contoh, powerbank 10.000 mAh bisa mengisi ponsel berkapasitas 5.000 mAh sekitar dua kali.

    Baca Juga: Ini 5 Rekomendasi Powerbank 10.000mAh Terbaik, Paling Worth It!

    20.000 mAh ke Atas: Cocok buat perjalanan jauh atau outdoor.

    Powerbank berkapasitas tinggi ini mampu mengisi ponsel 4-5 kali. Tapi, siap-siap membawa beban ekstra (biasanya 400–500 gram). Saya pernah menggunakan powerbank 30.000 mAh saat camping, dan meski berat, kehadirannya sangat menyelamatkan saat tak ada sumber listrik selama 3 hari.

    Baca Juga: 5 Rekomendasi Powerbank 20.000mAh Terbaik di Tahun 2025

    Tips dari saya:

    Jika kamu pengguna iPhone (kapasitas baterai ~3.000 mAh), powerbank 10.000 mAh sudah cukup untuk 3-4 kali isi ulang. Tapi, kalau kamu punya tablet atau laptop, langsung incar kapasitas 20.000 mAh dengan fitur Power Delivery (akan kita bahas di poin selanjutnya).

    2. Pastikan Ada Fitur Fast Charging

    Pobsel sedang dicas menggunakan powerbank fast charging

    Tak ada yang lebih menyebalkan daripada menunggu berjam-jam hanya untuk ngecas powerbank atau HP. Karena itu, pastikan powerbank yang kamu beli mendukung teknologi fast charging. Berikut fitur yang perlu kamu cari:

    a. Output Minimal 2.4A

    Output (arus keluaran) menentukan kecepatan transfer daya dari powerbank ke perangkat. Standar minimal untuk fast charging adalah 2.4A dengan daya 15W. Sebagai perbandingan, output 1A hanya cocok untuk mengisi smartwatch atau earbuds.

    Contoh:

    • Powerbank dengan output 2.4A bisa ngecas HP dengan baterai 5.000 mAh dalam 2–3 jam.
    • Output 3A atau 5A (25W–45W) bisa memangkas waktu hingga 1–1.5 jam.

    b. Quick Charge 3.0/4.0 (Untuk Android)

    Fitur Quick Charge (QC) dari Qualcomm adalah standar fast charging untuk smartphone Android.

    Jika HP mu menggunakan chipset Snapdragon (misalnya Xiaomi, Samsung Galaxy A/Series), pastikan powerbank mendukung QC 3.0 atau 4.0. Fitur ini bisa meningkatkan kecepatan pengisian hingga 70% lebih cepat dibandingkan charger biasa.

    c. Power Delivery (Untuk Laptop dan iPhone)

    Power Delivery (PD) adalah teknologi fast charging yang mendukung perangkat berdaya tinggi seperti MacBook, iPad Pro, atau laptop Windows.

    Powerbank dengan PD biasanya memiliki output 18W–100W. Contohnya, Anker PowerCore 20.000 PD bisa mengisi MacBook Air 2020 hingga 50% dalam 30 menit.

    Perlu diingat:

    • Pastikan kabel yang kamu gunakan juga mendukung PD atau QC. Kabel USB-A biasa tidak akan maksimal!
    • Cek kompatibilitas perangkatmu. iPhone 8 ke atas sudah support PD, tapi kamu perlu kabel USB-C ke Lightning.

    3. Wireless Charging: Praktis Tapi Perlu Pertimbangan Biaya

    powerbank MagSafe untuk iphone

    Fitur wireless charging menggunakan teknologi Qi semakin populer, terutama di kalangan pengguna iPhone 12 ke atas atau Samsung Galaxy S/Note Series. Dengan meletakkan ponsel di atas powerbank, tak perlu repot colok kabel.

    Tapi, ada beberapa hal yang harus kamu tahu:

    • Efisiensi Daya Lebih Rendah: Proses charging nirkabel menghasilkan panas, sehingga daya yang terpakai lebih besar. Powerbank 10.000 mAh mungkin hanya bisa mengisi ponsel 5.000 mAh sekali saja.
    • Harga Lebih Mahal: Powerbank dengan Qi biasanya 2–3x lebih mahal dari versi kabel. Contohnya, Xiaomi Wireless Power Bank 10.000 mAh dibanderol sekitar Rp 500 ribuan, sedangkan versi biasa hanya Rp 200 ribuan.

    Saran saya:

    Jika kamu sering lupa bawa kabel atau ingin tampilan lebih rapi, pilih powerbank nirkabel. Tapi, pastikan HP mu sudah support fitur ini.

    Baca Juga: 5 Rekomendasi Powerbank MagSafe Terbaik untuk iPhone di 2025

    4. Pilih Merek Terpercaya demi Keamanan

    Saya sering melihat kasus powerbank meledak atau rusak setelah beberapa bulan dipakai. Mayoritas kasus ini terjadi karena produk abal-abal yang tidak memiliki sistem proteksi.

    Berikut 5 merek rekomendasi saya:

    a. Anker

    Anker adalah merek global yang terkenal dengan kualitas dan inovasinya. Produknya dilengkapi fitur keamanan seperti:

    • MultiProtect: Mencegah overcharge, short circuit, dan overheating.
    • PowerIQ: Teknologi yang menyesuaikan output dengan kebutuhan perangkat.

    Contoh produk: Anker PowerCore 26800 PD (25.600 mAh) dengan PD 45W untuk laptop.

    b. Xiaomi

    Xiaomi menawarkan powerbank dengan harga Rp 200 ribuan (10.000 mAh) hingga Rp 600 ribuan (20.000 mAh). Desainnya minimalis dan tersedia warna-warna modern. Fitur unggulannya termasuk fast charging 18W dan material casing tahan gores.

    c. Acmic

    Acmic hadir dengan powerbank yang simpel namun penuh keandalan. Produk Acmic tersedia dalam kisaran harga sekitar Rp 200 ribuan hingga Rp 500 ribuan, dengan kapasitas yang biasanya dimulai dari 10.000 mAh hingga 20.000 mAh.

    Sistem proteksi yang dimilikinya mencegah overcharge, short circuit, dan overheating, membuatnya ideal untuk penggunaan sehari-hari tanpa menguras kantong.

    d. Baseus

    Baseus menawarkan powerbank dengan fitur unggulan seperti teknologi pengisian cepat yang mendukung standar PD dan QC. Produk Baseus umumnya dibanderol dengan harga sekitar Rp 250 ribuan hingga Rp 500 ribuan untuk varian 10.000 mAh, dengan desain modern dan material casing yang tahan lama.

    Powerbank Baseus tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan stylish, cocok untuk kamu yang menginginkan efisiensi dan penampilan menarik.

    e. ROBOT

    ROBOT cocok untuk kamu yang ingin powerbank kapasitas besar tapi budget terbatas. Misalnya, ROBOT 30.000 mAh hanya diharga Rp 300 ribuan. Meski tidak secepat Anker atau Xiaomi, produknya sudah memenuhi standar keamanan dasar.

    FAQ

    1. Berapa kali powerbank 10.000 mAh bisa mengisi ponsel 4.000 mAh?

    Secara teori, 10.000 mAh ÷ 4.000 mAh = 2.5 kali. Tapi, karena ada efisiensi daya (biasanya 80–90%), hasilnya sekitar 2 kali isi penuh.

    2. Apa bedanya mAh dan Wh?

    mAh (milliampere hour) adalah kapasitas baterai, sedangkan Wh (Watt hour) adalah satuan energi. Untuk membandingkan powerbank dengan laptop, konversi mAh ke Wh menggunakan rumus: (mAh × Voltase) ÷ 1000.

    3. Bolehkah membawa powerbank ke pesawat?

    Boleh, asal kapasitasnya di bawah 100 Wh (≈27.000 mAh). Powerbank 20.000 mAh umumnya aman.

    4. Berapa lama umur powerbank?

    Rata-rata 300–500 siklus charging. Jika dirawat baik (tidak sering diisi sampai 100% atau dipakai sampai 0%), bisa bertahan 2–3 tahun.

    5. Bagaimana cara merawat powerbank?

    • Jangan biarkan powerbank terlalu lama dalam kondisi 0% atau 100%.
    • Hindari paparan suhu ekstrem (misalnya ditinggal di mobil saat siang hari).
    • Gunakan charger dan kabel original.

    Kesimpulan

    Nah demikianlah cara memilih powerbank yang tepat. Powerbank yang bagus bisa membuat aktivitasmu lebih efisien dan aman. Mulailah dengan mempertimbangkan kebutuhan mu dulu: kapasitas, kecepatan charging, dan budget.

    Jangan lupa prioritaskan merek yang sudah teruji keamanannya. Kalau saya pribadi, untuk penggunaan sehari-hari, saya sendiri pakai powerbank Robot RT12 10.000 mAh. Tapi kalau sering remote work, Anker dengan PD wajib masuk wishlist!